Tuesday, March 20, 2007

WAKTU


Waktu yang begitu panjang, menghantarkanku pada sebuah tempat,yang oleh kemudian disebut : Kesadaran. Pengalaman yang silih berganti, bersamaan dengan perjalanan itu sendiri, mempertemukanku dengan teman-teman baru, yang berbeda, yang memberikanku banyak cerita yang lain juga. Sungguh pun demikian, acapkali, kenakalanku, memaksa diriku untuk kembali meragukan, segala hal yang bersifat absolut. Di saat seperti ini, aku teringat pandangan-pandangan Ahmad Wahib dalam bukunya, yang oleh karena apa, sangat berpengaruh pada diriku. Segala hal menyangkut kesangsian, seperti dituliskan Wahib, sangatlah nakal,menggugat, mengena, dan rileks-rileks saja.
Kesangsian itu,terasa, sangat manusiawi, demokratis dan masuk akal. Melalui buku “Pergolakan Pemikiran Islam” itu, aku menemukan sikap yang kritis dan aku pikir, Tuhan tidak akan tersinggung. Tidak ada yang salah dengan segala keelokan pemikiran Wahib. Bahkan, keraguannnya membuktikan pada kita semua, bahwa yang absolut itu, penuh dengan ketidakpastian. Sangat langka,memang, pemikiran kritis, juga rasional, diketengahkan pada kita semua. Orang-orang mudah gerah, manakala seorang pemikir meragukan,mempersoalkan segala sesuatu yang telah dianggap mapan.
Dalam beragam perbedaan, aku memukan cara berpikir Ahmad Wahib paralel dengan Ulil Abshar Abdalla dari Jaringan Islam Liberal (JIL). Kawanku yang satu ini, walau kadang nekat dan malu-malu, mencoba jalur lain dalam memahami pemaknaan lama tentang Tuhan. Dan karenanya, kita pantas untuk bangga, melihat pergolakan Islam di Indonesia.
Sungguh, semuanya yang terjadi merupakan karunia. Menyongsong hari-hari yang ada, tidak sekedar jalan kosong. Ada saja jalan turun naik, belok kanan atau kiri. Sangat dinamis. Ya, kebahagian yang menjemputku, belum akan selesai di pintu terakhir. Begitu rupa masalah akan menghadang di depan mata. Ketajaman, kesabaran, juga sifat lebih terbuka, akan sangat menolong bagiku dalam memahami segala macam kejadian di sekitar kita. Tidak mudah mengatasinya. Tetapi, bukankah selalu demikian nasib manusia di dunia. Seorang filosof pernah bilang, bahwa manusia bagaikan seekor burung yang datang menghampiri tebing-tebing untuk menabrakan tubuhnya ?
Belum tentu benar,memang. Pasalnya, burung dapat juga terbang ke awan yang luas. Menatap ke atas untuk merasakan indahnya kebebasan. Melihat ke bawah, untuk mengetahui curamnya peradaban. Dari titik inilah, kita memulai perjalanan penuh teka-teki. Kita diharuskan untuk memecahkan masalah. Entah oleh siapa, kita wajib menyelesaikan sisa umur ini. Berbahagialah, sang waktu selalu sabar menunggui tarikan nafas kita masing-masing. Tiada detik yang terlewatkan. Senyawa mengalir menyusuri beragam peristiwa sejarah.
Kini, lampu-lampu mulai meredup diantara dedaunan. Seluruh kota kelelahan. Istirah, menjelang pergantian hari, seirama jatuhnya embun menjelang pagi hari. Sunyi senyap. Kata-kata dikesampingkan dari kebiasaan bercakap-cakap. Bunyi terompet di jalananan, sesekali mengertap mendampingi suluh kehidupan manusia. Ku menyadari, setiap detik selalu mencatat segala macam kejadian yang ada. Entah esok atau kapan saja, waktu akan mengucapkan selamat tinggal. Dan, aku juga kalian akan dilupakan semua orang.
Jangan kau berhenti. Setiap hari kita selalu mendengar berita kematian. Bukanlah sesuatu yang istimewa, kalau kita bicara hal itu. Semoga.