Showing posts with label e.g. scooters. Show all posts
Showing posts with label e.g. scooters. Show all posts

Sunday, April 15, 2007

Perjalalan ke Timur


Sebuah puisi telah lahir di tanah Timor. Baitnya lirih namun ku dengar kian menyata perasaan. Menuju ke arah bukit batu, ku dengar tangisan yang lalu. Tentang negri yang subur dan silam yang gemilang. Menuju ke Kampung raja, pekuburan batu menjadi saksi bisu. Perihal tradisi dan mitos. Manakala, senyum dihabisi oleh waktu, yang kudengar hanyalah dengung derit batu yang sengau menahan kesepian.
Dari Kefa sampai Atambua, hanya kudengar ribuan anak-anak kelaparan di perbatasan. Kau mungkin sudah tak tau. Kenapa sepi juga mengulang menjadi lagu di tempat peribadatan. Tiada ku tau, sudah jauh perjalanan ke Timur. Satu catatan ke catatan yang lain. Selendang ke selendang yang macam warna, ku mendengar kemiskinan meranggas setiap rumput diinjak.
Sebuah puisi sudah dicoretkan ke atas batu-batu. Cuma sedikit waktu, kita mengenal kembali tanah air yang jauh dari kelahiranku.

Membangun Optimisme


Bilamana kita berkesempatan untuk menjelajah banyak tempat di tanah air, yang aku rasakan adalah bersyukur. Dimana kakkiku melangkah, terasa sekali, betapa luasnya tanah airku ini. Tiada rasa lelah, terlebih merasa menyesal sebagai warga negara Indonesia. Walau, acapkali aku merasakan kepedihan melihat tanah air yang tidak tergarap secara optimal, namun aku yakin bahwa kita ke depan akan lebih baik. Entah kenapa, aku merasa selalu optimis, manakala melihat dan berbincang-bincang banyak saudaraku di pelbagai tempat di tanah air.
Aku merasa bersyukur dapat mengenali beragam sudut kehidupan di tanah tercinta Indonesia. sebuah negeri yang luas, beragam bahasa, beragam manusia dan Indonesia benar-benar negara yang sangat mengagumkan. Karenanya, senantiasa aku banyak memperoleh pelajaran, manakala mempunyai kesempatan mengenal banyak saudara-saudaraku di mluar Jawa. Inilah sebuah negri dengan optimisme. Sebuah negeri yang akan besar, manakala kita mempunyai pemerintahan yang bersungguh-sungguh menannamkan komitmnen terhadap perubahan sosial yang lebih baik ke depan.
Pada bagian lain, sesungguhnya pemerintah Jakarta harusnya malu,karena belum berhasil mengelola keluasan tanah air Indonesia.

Friday, March 23, 2007

Bangsa yang lelah


Hidup selalu dihadapkan beragam pilihan. Seluruh langkah hari ini sangat menentukan kejadian di hari esok. Demikian, pun, nasib bangsa ini. Sejak Soekarno-Hatta diberi kesempatan menyatakan kemerdekaann sebuah republik, para petinggi negara ini selalu menyatakan niatnya untuk memperjuangkan hak-hak rakyat. Dan sejak itu pula, bangsa ini belum mampu keluar dari kemiskinan, penindasan dan keterbelakangan.
Bukan mereka tidak berupaya keras untuk memperjuangkan hak-hak rakyat. Pasalnya, kondisi bangsa kita yang hetrogen memaksa para pejuang republik berkeharusan bekerja keras untuk mengejar ketertinggalan. Pasalnya, kondisi rumit yang kita hadapi bersama ini, tidak seharusnya menyurutkan semangat perjuangan itu.

Setidaknya, indikasi merosotnya semangat melakukan pembaharuan untuk melepaskan bangsa ini dari kemimiskinan dan penindasan kian nampak sekali. Sikap hedonistik,konsumeristik dan individualistic lebih mengemuka, ketimbangkan kehendak memperjuangkan nasib bangsa.

Arah pembangunan yang semata-mata mengetengahkan pertumbuhan sudah cukup meluluhlantakan semangat kebangsaan yang pro-rakyat miskin. Suharto dengan kasat mata menjadikan bangsa ini masuk ke dalam lingkaran kemiskinan yang ekstrim. Kebijakan politik ekonomi yang ultra-liberalis menyisakan kehancuran sangat serius. Ditambah kegagalan para penguasa politik post-Suharto, memperlihatkan ketidakmampuan mengelola negara, yang diakibatkan domain Orde Baruisme yang serba antagonistik. Lihat saja, sejak pemerinatahan Megawati sampai dengan yang sekarang, tidak ada upaya pembaharuan yang dapat dianggap cukup mendasar. Posisi penguasa politik pasca Suharto belum sepenuhnya mampu keluar dari penjara budaya politik Orde Baru. Yang lebih memprihatinkan lagi, para penguasa politik lebih banyak disibukan dengan percaturan kepentingan, untuk kemudian lebih mementingkan kelompokinya, ketimbang memikirkan nasib bangsa ini.

Contoh lain, saat ini anggora DPR atau DPRD lebih sibuk ngurusin laptop atau berebut duit pembagian beradasrkan Kepres no 37 yang ”konon” sudah dibatalkan. Pada bagian lain, langkah-langkah sistematik penjualan asset-asset bangsa kian meruyak di mana-mana. Bentuk pelacuran politik semacam itu akan membawa resiko-resiko penghancuran moral yang sejarahnya berhasil dibentuk oleh para penguasa ORBA dan selanjutnya. Kini, mau tidak mau kita harus melakukan perubahan sistem politik yang lebih berpihak pada kepentingan rakyat. Apakah itu mungkin ?

Meragukan perihal komitmen kerakyatan,memang,bukan hal baru. Terdapat banyak fakta, bahwa bicara kopmitmen kerakyatan yang terjadi kerap berbeda dalam pelaksanaan di lapangan. Janji manis politik acapkali menjadi ”barang kelontongan” yang selalu diulang setiap lima tahun sekali. Nyatanya, sehabis suara rakyat berhasil dibujuk, segera dilupakan manakala kekuasaan telah diraihnya. Janji manis di saat Pemilu, kini melahirkan aturan-aturan tidak masuk akal yang intinya mengesampingkan hak-hak rakyat.

Kasus lumpur Lapindo di Porong merupakan contoh nyata, bagaimana pemerintahan ini telah berbuat tidak selayaknya pada rakyat. Hanya karena pemiliknya adalah mentri dalam kabinet, maka rakyat harus dikorbankan. Getirnya, pemerintahan ini justru melupakan janji ”bersama kita bisa”, seketika pula diplesetkan menjadi ”bersama bisa susah,bisa sengsara dan bisa yang berbisa.”

Sekedar mengingatkan, apabila kekuasaan tidak kembali pada basis pemilihnya, kuat dugaan saya, bahwa ke depan politik akan mempunyai ganjaran sendiri-sendiri. Rakyat tidak akan memilih sebuah rezim yang tidak berpihak pada pemilihnya. Selagi belum terjadi, sebaiknya cepat-cepat mengubah haluan dengan berpihak pada rakyat. Karena apa ? bersikap politis dengan haluan keberpihakan yang lebih jelas, akan lebih menguntungkan bagi para penguasa. Kini sudah bukan jamannnya, penguasa mencoba main-main. Kata orang ”rakyat sudah cerdas.” Dan kecerdasannnya akan dimainkan pada upacara politik lima tahunan.

Boleh saja, para penguasa itu bermain dengan tindakan politik serba karikatif. Tapi, harap jangan sembrono menghitung kepercayaan rakyat. Salah kira, salah melangkah hukuman politik rakyat akan lebih kejam ketimbang yang anda perkirakan. Bolah boleh saja anda mengambil contoh rezim Suharto yang kini bebas dari terkaman rakyat. Masalahnya, kita tidak bisa menduga apa yang akan terjadi di hari esok.

Sebagai bangsa beradab, yang konon kabarnya sedang belajar berdemokrasi, hendaknya pandangan saya ini dapat diterima dengan lapang dada. Peringatan yang terungkap dalam pandangan politis ini, semata-mata karena bangsa Indonesia tidak boleh terus menerus terperosok pada kubangan yang sama. Kaum terpelajar harus terus mengingatkan, bahwa ke depan problem dari bangsa Indonesia tidaklah ringan. Yang jelas, kita tidak mungkin mengubah arah jarum jam. Sekali melangkah salah, sekali itu juga korban politik berjatuhan.

Pohon rindang kekuasaan,memang, akan membuat nyaman para penguasa. Masalahnya, kekuasaan itu tidak berlangsung abadi. Ada saatnya kita berdiri tegak menguasai segala masalah, lebih banyak lagi kita terjerembab dengan kerikil kecil. Maka dari itu, marilah kita berdiskusi untuk lebih memikirkan kepentingan rakyat banyak, ketimbang menjadi bola mainan rakyat di hari muram yang akan datang.

Mungkin, ada bagusnya bagi para penguasa politik mau membaca novel-novel Gabriel Gracia Marques, yang rata-rata memberikan pelajaran imajis tentang pengusa yang serba kesepian. Dalam novel-novel Marques selalu mengingatkan pada kita tentang kenisbian kekuasaan. Sekali lagi, semua ini cuma sekedar usulan.

Marilah kita akhiri bersama, kebodohan kekuasaan dari bangsa ini. Ke depan langkah kita sebagai manusia Indonesia sangat ditentukan oleh sikap, pandangan politis dan kejujuran para penguasa dalam mengelola negara secara baik. Kita tak cukup hanya dengan menjual politik pencitraan yang isinya serba manipulatif.Kenapa ? karena kemenangan ”tipu-tipu” sangat tidak pada tempatnya. Yang kita butuhkan adalah sebuah komitmen kerakyatan. Bukan janji palsu yang akan menjerumuskan bangsa ini pada kenistaan dan kebodohan.

Berpulang pada anda semua, ungkapan ini akan menjadi omong kosong, manakala kita tidak pernah mempercayai peran dan kedudukan rakyat. Cukup sudah segala bentuk tindakan politik yang memakai judul ”untuk kepentingan rakyat”- nyatanya justru menjadikan rakyat semakin tersiksa. Berhentilah anda bermimpi menjadi bangsa besar. Sebab,kini, bangsa ini telah menjadi bangsa budak yang selalu dipencundangi oleh segerombolan perampok yang selalu berwajah manis di hari kampanye politik.
Bangsa ini sudah sangat lelah.

Thursday, March 22, 2007

Cerita Semalam


Belum usai sisa dingin semalam. Sesekali kabut melintas menjemput matahari. Pagi yang sama, datang. Tenda mulai dibereskan. Suara kanak-kanak bermain di tengah lapangan. Tiada yang menduga, kita cuma punya masa silam. Memandang cakrawala yang baru bangkit dari beku, ku merasakan harapan sudah lumpuh di tempat ini. Lihatlah ke arah jalan kecil, dekat bukit hijau yang bersisa, air menguncur tersendat-sendat, memberikan kita sebuah kesaksian.
Mobil-mobil truk pengangkut teh sudah menghampiri. Sepasang burung liar berkasihan diantara rumput hijau di tengah lapangan. Kian terasa sepi menjadi. Anak-anak sudah mulai masuk ruang kelas masing-masing. Pelajaran ilmu bumi telah diputar mengubah dunia menjadi optimis. Ada harapan di sana. Puluhan masa depan dijereng lebar-lebar, meyakinkan pada kita tentang republik yang tengah digadaikan.
Jauh di hamparan bawah bukit, rumah penduduk berbanjar acak. Mereka beranak pinak, membuat kehidupan tiada yang berubah. Kemiskinan, sulitnya mendapat pendidikan dan wajah lain Indonesia yang menderita. Ku di sini, menatap awan putih mulai meninggi. Sekitar 200 anak-anak tiada beranjak untuk mengubah nasibnya. Adakah kita akan pergi meninggalkan mereka sendirian. Tak sampai hati rasanya.
Sabtu esok, mereka akan berlomba sepak kaki. Yang perempuan,katanya, ingin bermain kasti. Kata mereka, di sini tidak punya bola kaki. Amboi, sungguh sepi Indonesia di sini.
Tiada pesta dan makan yang enak. Tiada pembelaan, tiada semuanya.
Duduk bersila, merasakan waktu tiada berhenti, nasib manusia,memang, tiada yang tau. Kupikir, ini bukan soal nasib baik atau nasib buruk. Pasalnya, setiap kaki melangkah berbeda tujuan, berbeda cara menyelesaikan. Bilamana, kita semua diam dengan segala hal, bilamana kita tidak memperdulikannya, siapa pula yang akan merawat mereka menjadi manusia Indonesia ?
Andai ini semua sebuah teka-teki, telah kuputuskan, aku akan memecahkan masalahnya. Aku khan berjalan sampai tempat yang jauh, menemui mereka, menggapit tangan mereka, menuju tempat yang tidak pernah kita janjikan. Seperti juga angin dan cakrawala, semuanya berjalan seperti pada pusarannya. Akan terus diantaraku, tidak kubiarkan kau menangis sendirian. Segudang cerita khan kubongkar dari peradaban yang dilupakan. Mungkin, hanya sekedar mengurangi rasa sakit. Mungkin, hanya sekedar hiburan di musim dingin menerpa. Aku akan tetap di sini, menjadi sahabat di tempat yang memilukan.
Hujan rintik jatuh di tanah hijau. Tanah air tumbuh menjadi serangakaian cerita yang indah. Jangan kau berhenti untuk sebuah harapan. Kini pintu-pintu harus dibuka. Biarkan udara bebas menjempumu. Lebarkan bilah-bilah tangan, yang gagal dikepalkan. Tunjuk pada langit, kita akan menemukan masa depan. Biarkan anak-anak mengeja huruf demi huruf masa akan datang. Kemarilah, kita meneguhkan, masih tersisa jalan kecil untuk kita runut ke depan.
Kita hampiri kabut sisa semalam. Biar cuma kata-kata, semangat sudah kita tancapkan. Jangan berhenti.

Lagu yang terkubur


Daun jatuh saat malam hening di bebukitan. Sepasang angsa liar tertidur menunggu pagi menjelang.”Kenapa malam, begitu panjang” keluh sepi dihempas cahaya malam yang pelit. Cuma angin pegunungan yang berhembus lirih di sela-sela rumput liar. Sesungguhnya, kini menjadi kesangsian yang sempurna. Ketika, kata berubah fungsi menjadi kepedihan. Saat kata, dimabukan dalam makna-makna kotor.

Berbilah-bilah senjata terkubur seusai perang. Bekas serdadu,kini,menjadi pengangguran. Dan menunggu kepedihan jadi lautan darah di atap-atap langit. Sudah sekian tahun, orang tua kami dibunuh, anak-anak kami ditiup nyawanya dengan senjata, untuk dan atasnama republik. Kenapa ? Memang, sudah menjadi cerita, yang tersisa hanya masa lalu. Semua sudah melupakan, darah-darah berceceran mendekati bukit dan semak persembunyian.

Adakah kau dapat mendengar, suara lenguh kesakitan tubuh terbakar mesiu yang melesat dari tangan-tangan para pendurhaka. Mayat-mayat membusuk di lereng,pantai dan juga mimpi kita semalaman. Tiada yang ingat, sebab bendera dan janji-janji selalu diulang-ulang melalaui tv nasional kaum republik. Maaf, di sini malam lebih panjang dari angin dan nafas kita sendiri.

Sebentar, bunga-bunga liar akan menjalar ke pelosok desa. Warnanya tiada tara keindahannnya. Air sungai dan katak liar akan menyambut mereka. Kita merasakan, bagaimana langit bersih, awan terang mencoreng cakrawala, menandai sepi cuma cerita sesaat. Dan, orang-orang tertawa di kedai-kedai. Pertarungan sudah dianggap selesai. Kita berusaha lelap dalam tidur. Untuk kemudian pergi meninggalkan desa, untuk menjemput keheningan yang abadi.

Tiada berharap kita menanam dendam kesumat. Rosul meyakinkan manusia untuk menjadi pemaaf. Bukankah semua sudah kita mengerti ? Kita bertahan di sini karena ketabahan dan kematian begitu dekatnya. Selalu itu, kita dengar dalam pertemuan di rumah atau di surau-surau. Medan pertempuran sesungguhnya, menuju kehampaan, juga kepasrahan.

Kembali ke laptop


Rencana anggota DPR membeli laptop mengingatkan saya pada mas Tukul. Betapa tidak. Mas Tukul yang kita kenal dengan gaya lawakannya yang serba “anarkis” dan sok tau, memperlakukan laptop sebagai sinisme terhadap orang-orang yang suka pamer barang-barang mewah. Lalu, apa bedanya mas Tukul dengan anggota Dewan,khususnya menyangkut laptop itu. Untuk menjawab pertanyaan ini, sebaiknya kita “kembali” pada niatnya.
Menurut pendapat bagian urusan “rumah tangga” di DPR, bahwa pembelian laptop bagi anggota DPR, semata-mata untuk meningkatkan kualitas kerja. Maka, argumennya, kalau kagak pake laptop, kualitasnya tidak sesuai dengan harapan. Masalahnya, dengan harga laptop 22 juta perak dan jumlah anggota dewan yang mencapai 500 orang lebih, anggarannya sangatlah besar. Pertanyaannya, apa anggota dewan enggak bisa beli sendiri si laptop itu. Apa semua kebutuhan anggota dewan, harus ditanggung negara.
Memang, tidak semua niat baik, menjamin penilaian baik. Harus ada unsur yang patut diperhitungkan. Yakni, unsur kepantasan bagi masyarakat pada umumnya. Pada zaman serba susah seperti saat ini, uang sebesar 22 juta perak bukanlah uang kecil. Beragam bencana dan meningkatnya pengangguran di tengah-tengah masyarakat Indonesia, semestinya menjadi bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan publik. Dengan kata lain, bagi anggota dewan yang terhormat harus lebih korektif dalam menghendaki fasilitas negara itu.
Perlu diingat, bahwa sekarang ini posisi anggota dewan acapkali ditanggapi secara sinis oleh masyarakat. Dewan Perwakilan Rakyat digambarkan secara kurang menguntungkan, justru, karena kebijakan yang dihasilkan tidak mampu menjawab harapan dan kepentingan rakyat yang memilihnya. Oleh karenanya, tujuan baik di balik pembelian latop itu akan menambah daftar kemuakan masyarakat terhadap anggota dewan yang terhormat.
Saya sendiri berkeinginan untuk berpikir secara positif. Artinya, bahwa “kemanjaan” aggotan DPR terhadap segala bentuk fasilitas, bermaksud untuk mendukung kinereja anggota dewan. Adapun sikap yang dipandang kurang tepat, sepantasnya, tidak dilanjutkan dan dipahami dari beragam segi yang mungkin muncul akibat salah kebijakan.
Pembelian laptop merupakan langkah yang kurang bijaksana. Dan, sudah saatnya, keputusan itu tidak dilanjutkan. Marilah kita belajar lebih bijaksana dalam menanggapi kritik maupun kecaman masyarakat terhadap rencana pembelian laptop untuk anggota Dewan. Bilamana keputusan pembatalan pembelian laptop itu diurungkan,sangat boleh jadi akan berdampak positif dan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap wakilnya di parlemen.
Sebaliknya, bilamana anggota dewan ngotot untuk meneruskan atau menerima rencana pembelian laptop, saya khawatir akan menjatuhkan kepercayaan rakyat di tingkat paling dasar. Makanya, saatnya anggota dewan mulai merenungi kembali; posisi dan perannnya sebagai wakil rakyat.Jangan sampai rakyat kian muak dan marah terhadap kelakukan anggota DPR. Dalam kondisi semacam ini, laptop menjadi fenomena tersendiri yang menjungkirbalikan nilai-nilai kepantasan.
Bilamana mas Tukul mau sedikit meluangkan waktunya. Marilah kita mengundang anggota dewan hadir dalam acara “fis to fis-nya” mas Tukul. Marilah kita sama-sama kembali ke laptop. Perkara laptop itu dari mana asalnya, sejenak kita lupakan. Biarkan rakyat tertawa terbahak-bahak menikmati ke ”ndesoan” nya mas Tukul. Misalnya, ”ndeso” karena tidak tau cara menghidupkan atau mengoperasikan laptop. Juga ”ndeso” karena ”kebodohannya”. Pendek kata, para anggota dewan bisa belajar pada mas Tukul mengenai ”hakekat” kejujuran, keunikan dan rasa kepantasan di tengah-tengah masyarakat ”ndeso-kota/urban” yang cenderung sok modern, mau serba kosmopolit dan rakus segala hal.
Tidak ada kata lain, simbolisasi manusia rakus tapi pura-pura bodoh,ternyata, membentuk pada diri ”kejujuran” mas Tukul itu. Tidak dapat dipungkiri, dengan menjual keluguan,idiotisme dan kampungismenya, tokoh lawak asal semarang itu telah memberi insiprasi bagi seluruh anggota dewan ”kembali ke laptop”. Sebuah ”mainan” baru yang menctrakan ”kemodernan” yang ndeso banget. Kenapa ? katanya sebagian besar anggota dewan enggak bisa pake laptop. Lalu ? buat apa laptop dibeli. Cuma yang punya proyek yang bisa menjawab.

Wednesday, March 21, 2007

Hujan di kotaku


Ketika hujan menjauh, sepertinya kita berhenti di ujung yang lain. Siapa sesungguhnya yang mengetuk pintu dari balik kegelapan ? Mungkin, di sinilah teka-teki hendak dibangun. Jauh sebelum terjawab,seketika, yang menjadi pertanyaan melolong menuju sebuah peradaban "yang lain." Ketika hujan menjauh, kata-kata yang sudah terucapkan, sejenak terlupakan.
Ketika jalan meretas, kemudian kekeringan, kemudian anak-anak berangkat ke sekolah. Maka, terlupakanlah cerita hari kemarin. Tentang, sekian banyak orang-orang mengungsi di sekolahan, perihal nasi bungkus yang datang kesiangan. Sejenak, kita melupakan; sekian banyak pejabat mendatangi, nampaknya belum tentu semuanya tulus juga.
Jalanan, kembali macet. Orang entah apa juntrungnya, kembali membaca koran tentang; apa saja sudah ditelan. Kota ini, memang sudah sangatlah bebal. Harap maklum. Kita mungkin hanya sebuah cerita yang segera dilupakan. Ada banyak hal yang lebih penting. Ke depan, orang-orang akan berlomba menjadi presiden. Uang berhamburan untuk apa yang kita pahami sebagai MERCUSUAR KEKUASAAN.
Kapal tenggelam di selat Jawa, tanah longsor di Manggarai, Kapal Meledak di bandara Adi Sutjipto, mari kita padamkan dalam ingatan. Sebab ada yang lebih besar dalam penantian. Itulah, teka-teki. Memang, cukup panjang sungai mengalir dari hulu ke lauatan. Yang kita ketahui, hanyalah sobekan kertas yang bercerita, yang telah disimpan dalam sejarah yang gelap.
Kemana kita harus mencari ? Mungkin, kita harus mengetuk ke dalam pintu hati terdalam. jangan tanya sabab musabab, jangan hiraukan kritik atau gosip di televisi.
Marilah, kita kembali di hadapan kata-kata. Untuk kemudian melupakannya.

Tuesday, March 20, 2007

WAKTU


Waktu yang begitu panjang, menghantarkanku pada sebuah tempat,yang oleh kemudian disebut : Kesadaran. Pengalaman yang silih berganti, bersamaan dengan perjalanan itu sendiri, mempertemukanku dengan teman-teman baru, yang berbeda, yang memberikanku banyak cerita yang lain juga. Sungguh pun demikian, acapkali, kenakalanku, memaksa diriku untuk kembali meragukan, segala hal yang bersifat absolut. Di saat seperti ini, aku teringat pandangan-pandangan Ahmad Wahib dalam bukunya, yang oleh karena apa, sangat berpengaruh pada diriku. Segala hal menyangkut kesangsian, seperti dituliskan Wahib, sangatlah nakal,menggugat, mengena, dan rileks-rileks saja.
Kesangsian itu,terasa, sangat manusiawi, demokratis dan masuk akal. Melalui buku “Pergolakan Pemikiran Islam” itu, aku menemukan sikap yang kritis dan aku pikir, Tuhan tidak akan tersinggung. Tidak ada yang salah dengan segala keelokan pemikiran Wahib. Bahkan, keraguannnya membuktikan pada kita semua, bahwa yang absolut itu, penuh dengan ketidakpastian. Sangat langka,memang, pemikiran kritis, juga rasional, diketengahkan pada kita semua. Orang-orang mudah gerah, manakala seorang pemikir meragukan,mempersoalkan segala sesuatu yang telah dianggap mapan.
Dalam beragam perbedaan, aku memukan cara berpikir Ahmad Wahib paralel dengan Ulil Abshar Abdalla dari Jaringan Islam Liberal (JIL). Kawanku yang satu ini, walau kadang nekat dan malu-malu, mencoba jalur lain dalam memahami pemaknaan lama tentang Tuhan. Dan karenanya, kita pantas untuk bangga, melihat pergolakan Islam di Indonesia.
Sungguh, semuanya yang terjadi merupakan karunia. Menyongsong hari-hari yang ada, tidak sekedar jalan kosong. Ada saja jalan turun naik, belok kanan atau kiri. Sangat dinamis. Ya, kebahagian yang menjemputku, belum akan selesai di pintu terakhir. Begitu rupa masalah akan menghadang di depan mata. Ketajaman, kesabaran, juga sifat lebih terbuka, akan sangat menolong bagiku dalam memahami segala macam kejadian di sekitar kita. Tidak mudah mengatasinya. Tetapi, bukankah selalu demikian nasib manusia di dunia. Seorang filosof pernah bilang, bahwa manusia bagaikan seekor burung yang datang menghampiri tebing-tebing untuk menabrakan tubuhnya ?
Belum tentu benar,memang. Pasalnya, burung dapat juga terbang ke awan yang luas. Menatap ke atas untuk merasakan indahnya kebebasan. Melihat ke bawah, untuk mengetahui curamnya peradaban. Dari titik inilah, kita memulai perjalanan penuh teka-teki. Kita diharuskan untuk memecahkan masalah. Entah oleh siapa, kita wajib menyelesaikan sisa umur ini. Berbahagialah, sang waktu selalu sabar menunggui tarikan nafas kita masing-masing. Tiada detik yang terlewatkan. Senyawa mengalir menyusuri beragam peristiwa sejarah.
Kini, lampu-lampu mulai meredup diantara dedaunan. Seluruh kota kelelahan. Istirah, menjelang pergantian hari, seirama jatuhnya embun menjelang pagi hari. Sunyi senyap. Kata-kata dikesampingkan dari kebiasaan bercakap-cakap. Bunyi terompet di jalananan, sesekali mengertap mendampingi suluh kehidupan manusia. Ku menyadari, setiap detik selalu mencatat segala macam kejadian yang ada. Entah esok atau kapan saja, waktu akan mengucapkan selamat tinggal. Dan, aku juga kalian akan dilupakan semua orang.
Jangan kau berhenti. Setiap hari kita selalu mendengar berita kematian. Bukanlah sesuatu yang istimewa, kalau kita bicara hal itu. Semoga.

Anak


‘Anak jalanan kumbang metropolitan
selalu ramai dalam kesepian
anak jalanan korban kemunafikan
selalu kesepian di keramaian’

Anak jalanan adalah mereka yang berusia 5 18 tahun, belum pernah menikah dan menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mencari nafkah serta berkeliaran dijalanan maupun ditempat-tempat umum. Mereka menjadi satu dari sekian penyandang masalah kesejahteraan social.

Berdasarkan data Departemen Sosial, ada 150 ribu anak jalanan yang terdeteksi dan terkonsentrasi di banyak kota besar di Indonesia. Di sudut-sudut jalan Kota Jakarta, misalnya, pemandangan keberadaan anak jalanan bahkan telah menghiasi keseharian dan dianggap sebagai sesuatu yang biasa. Padahal anak yang disebut anak jalanan itu adalah generasi penerus bangsa.

Jumlah anak jalanan paling banyak di DKI Jakarta yakni 30 ribu anak. Jumlah tersebut belum termasuk anak yang masuk kategori terlantar.

Anak – anak jalanan dan terlantar tersebut tercipta akibat berbagai faktor, seperti kemiskinan, disfungsi keluarga serta faktor lingkungan. Menyangkut masalah kepedulian daerah pada masalah anak - anak, saat ini baru ada 12 provinsi di Indonesia yang memiliki peraturan daerah soal anak, yang menyoal juga masalah anak jalanan

Apa yang menjadi permasalahan bagi anak jalanan ?
adalah terserang sakit pernapasan dan menjadi korban kekerasan

Berangkat dari kemiskinan, maka banyak orang tua memaksa anak mengemis di jalanan. Fenomena ini berkembang karena kemudian anak dianggap sebagai aset sumber penghasilan keluarga.

Menangani anak - anak jalanan memang rumit.
mereka hidup di lingkungan keras dengan bahasa percakapan yang kasar

Sementara, fenomena anak jalanan di Jabotabek misalnya juga sangat memprihatinkan. Data anak jalanan di Jabotabek saat ini berdasarkan data terakhir dari Komisi Nasional Perlindungan Anak mencapai angka 75.000 orang.

Di Indonesia sendiri, kasusnya dari tahun ke tahun bukan semakin menurun, tapi menunjukkan angka peningkatan. Dalam data yang dihimpun KPAI, selama 2005 terdapat 788 ribu kasus kekerasan terhadap anak yang terjadi di Indonesia. Jumlah tersebut, tentu saja hanya terbatas pada yang tercatat, sementara yang tidak terdeteksi mungkin jauh lebih banyak lagi. Kasus kekerasan terhadap anak, nyatanya bisa saja terjadi dimana saja.

Mereka terkadang menjadi sapi perah para preman yang menjadikan anak-anak jalanan sebagai mesin untuk menghasilkan uang. Sementara anak-anak jalanan yang dipelihara itu sama sekali tidak mendapatkan kehidupan yang layak. Jika mereka melawan atau mencoba melarikan diri maka bukan tidak mungkin kekerasan yang lebih buruk terjadi.

Adanya jaringan kejahatan terorganisir yang beroperasi di Indonesia juga menempatkan anak jalanan sebagai korban kejahatan phaedophil.

Konvensi ILO 182 telah melindungi keberadaan anak-anak jalanan dari pelbagai ancaman yang selalu mengincarnya terutama ketika mereka berada di jalanan.
Indonesia juga telah meratifikasi Konvensi ILO 182 dan dikuatkan kembali dalam Undang Undang No.1 Tahun 2000. Sayangnya, hingga kini implikasi terhadap perlindungan terhadap anak-anak jalanan masih nol besar.

Anak jalanan adalah masalah lain yang cara pendekatannya pun harus lebih manusiawi, tidak terkesan gagah-gagahan apalagi menggunakan cara kekerasan.

tiada tempat untuk mengadu
tempat mencurahkan isi kalbu
cinta kasih dari ayah dan ibu
hanyalah peri yang palsu

Disinilah kepekaan nurani kita dibutuhkan

anak jalanan kumbang metropolitan
selalu dalam kesepian
anak jalanan korban kemunafikan
selalu kesepian di keramaian

tiada tempat untuk mengadu
tempat mencurahkan isi kalbu
cinta kasih dari ayah dan ibu
hanyalah peri yang palsu

anak perawan kembang metropolitan
selalu resah dalam penantian
anak perawan korban keadaan
selalu menanti dalam keresahan

tiada restu untuk bertemu
restu menjalin hidup bersatu
kasih sayang dari ayah dan bunda
hanyalah adab semata

anak gedongan lambang metropolitan
menuntut hidup alam kedamaian
anak gedongan korban kesibukan
hidup gelisah dalam keramaian

tiada waktu untuk bertemu
waktu berkasihan dan mengadu
karena orang tua metropolitan
hanyalah budak kesibukan

CERITA DI KEBUN TEH


Hujan rintik berkelebat pada silam yang sama. Sekilas rumput hijau, halus diterpa angin. Kebun teh, juga yang lain, bagaikan cerita yang tidak pernah tercatat oleh siapa pun. Kemana mereka pergi menjemput masa depan ? Cuaca,nampak kembali kosong. Hari demi hari, tetap seperti puluhan tahun yang lalu. Beranak pinak tanpa masa depan. Sungguh, republik terasa sangat kejam.
Jauh dari balik bukit teh, suara dari surau memanggil-manggil, karena waktunya sudah tiba. Anak-anak menyebrangi lembah, sepanjang tahun untuk menemui masa depan. Benarkah demikian ? Setiap orang,memang, punya caranya sendiri untuk meyakini hidup. Tapi di sini, tiada yang mampu berharap bahwa nasib akan lebih baik dari hari kemarin.
Menatap jalanan yang berlalu, cerita, memang bisa berbeda-beda. Sepanjang hidup, angin yang sama akan datang dan pergi. Lalu ? apa yang harus dipastikan. Orang-orang, besok akan memetik teh, naik truk dan mengangkutnya entah kemana. Semua tiada tanya.